Kelola bisnis Anda
© 2026 Rentokil Initial plc (ID) PT Rentokil Indonesia - Nomor Induk Berusaha (NIB): 8120201762471. Tunduk pada hukum yang berlaku
Setiap musim hujan tiba, banjir jadi momok bagi banyak wilayah di Indonesia. Tapi bukan hanya kerugian materi yang harus dikhawatirkan, banjir juga jadi pemicu munculnya berbagai hama dan penyakit.
Limbah, genangan air dan kondisi lembab menciptakan ekosistem ideal bagi berbagai hama berkembang biak. Tak jarang, dari sanalah penyakit menyebar dengan cepat. Artikel ini akan mengulas jenis-jenis hama yang muncul saat banjir, penyakit yang dibawanya, serta langkah pengendalian yang tepat.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hama adalah binatang kecil seperti tikus, ulat, atau serangga yang merusak tanaman, makanan atau lingkungan. Namun dalam konteks rumah dan lingkungan tinggal, hama seperti tikus, kecoa, nyamuk dan lalat seringkali menjadi ancaman serius bagi setiap pemilik rumah.
Hama dan penyakit adalah dua hal yang saling berkaitan. Ketika hama menyerang, penyakit pun menyusul. Misalnya, serangan hama tikus dapat membawa leptospirosis, sementara gigitan nyamuk bisa menyebarkan demam berdarah atau malaria.
Kondisi pasca-banjir mempermudah serangan hama. Genangan air memicu perkembangan nyamuk, sampah yang menumpuk menarik perhatian lalat, sementara tikus dan kecoa bermigrasi ke rumah-rumah mencari tempat bertahan hidup.
Kondisi pasca-banjir menciptakan lingkungan yang rawan penyakit. Banjir sangat merugikan manusia karena menimbulkan berbagai penyakit seperti leptospirosis, DBD, hingga diare.
Banjir menimbulkan penyakit bukan hanya karena airnya, tetapi juga karena hama yang ikut muncul bersamaan. Maka dari itu, penting untuk memahami keterkaitan antara keduanya.
Berikut ini adalah penyakit yang sering disebabkan oleh banjir:
Penyakit akibat banjir ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang biasanya dibawa oleh air kencing tikus. Infeksi ini bisa terjadi saat seseorang menyentuh atau terpapar air banjir yang terkontaminasi.
Air yang tercemar akibat banjir menjadi media penyebaran bakteri penyebab diare dan kolera. Penyakit ini dapat menyebar cepat, terutama di lingkungan padat dengan sanitasi buruk.
Genangan air sisa banjir menjadi tempat ideal nyamuk Aedes aegypti berkembang biak. Tak heran jika kasus DBD melonjak usai banjir.
Lingkungan yang lembab, jamur dan sisa lumpur banjir dapat memicu ISPA, terutama pada anak-anak dan lansia.
Lingkungan pasca-banjir adalah magnet bagi berbagai jenis hama. Setiap hama ini membawa potensi penyakit yang bisa menyerang siapa saja, terutama anak-anak dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Berikut adalah 4 jenis hama yang muncul saat banjir dan bahayanya yang perlu Anda waspadai:
Tikus saat banjir sering bermigrasi ke pemukiman karena habitat aslinya tergenang. Hewan ini membawa berbagai penyakit seperti leptospirosis, salmonellosis dan bahkan rabies.
Kecoa saat banjir keluar dari saluran pembuangan dan mencari tempat kering. Mereka membawa bakteri dari limbah dan kotoran, lalu menyebarkannya ke permukaan dapur, makanan dan alat makan yang mereka lewati. Ini bisa menyebabkan diare atau infeksi saluran pencernaan.
Genangan air sisa banjir adalah tempat ideal nyamuk bertelur. Selain menyebabkan gatal, nyamuk dapat menularkan penyakit seperti DBD, malaria dan chikungunya.
Banjir menyebabkan limbah rumah tangga menumpuk, menarik perhatian lalat. Serangga ini membawa bakteri dari kotoran ke makanan manusia, menyebabkan diare, disentri dan tipes.
Untuk memutus rantai penularan antara hama dan penyakit, dibutuhkan tindakan pengendalian yang tepat, terutama pasca atau setelah banjir. Berikut adalah beberapa strategi pengendalian hama dan penyakit yang Rentokil rekomendasikan:
Tikus saat banjir bisa menjadi sumber infeksi serius karena air kencingnya membawa bakteri berbahaya bagi manusia. Berikut ini yang dapat Anda lakukan pasca banjir untuk mengatasi hama tikus:
Setelah banjir, nyamuk dapat berkembang biak dengan cepat di sisa genangan air, saluran tersumbat dan area lembab. Untuk mengurangi risiko:
Kecoa dan lalat menyukai area lembab dan kotor. Pasca banjir, tentu keadaan yang lembab dan kotor sangat sulit untuk dihindari. Untuk menghindari penyebaran penyakit dari 2 hama ini adalah:
Pengendalian hama dilakukan dengan cara terpadu, artinya tidak cukup hanya membasmi satu jenis hama saja, tapi butuh pendekatan menyeluruh agar siklus hidup hama tidak kembali berulang.
Pengendalian hama adalah strategi jangka panjang yang perlu dilakukan sebelum, saat dan setelah banjir. Ini bukan hanya soal menyingkirkan hama, tetapi mencegah dampak kesehatan yang bisa muncul akibat keberadaan mereka.
Untuk hasil yang maksimal, pengendalian ini sebaiknya dilakukan bersama tenaga profesional. Rentokil Indonesia siap membantu dengan pendekatan yang tepat, teknologi terkini dan dukungan teknisi ahli bersertifikat.
Hama dan penyakit adalah dua ancaman yang tidak bisa diabaikan saat musim banjir tiba. Ketika lingkungan berubah, maka hama akan mencari tempat baru - dan seringkali, itu adalah rumah kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, hama seperti tikus, nyamuk, kecoa dan lalat sering kali dianggap sekadar mengganggu. Namun pasca-banjir, ancaman dari hama dan penyakit yang mereka bawa menjadi jauh lebih serius, karena mereka dapat menyebabkan infeksi berbahaya kepada manusia.
Rentokil menyediakan layanan pest control terpercaya untuk melindungi keluarga dan properti Anda dari ancaman hama dan risiko penyakit yang ditimbulkannya.
Karena mencegah lebih baik, daripada mengobati. Hubungi Rentokil hari ini di 150808 atau melalui online form untuk menjadwalkan konsultasi atau inspeksi lokasi secara profesional di rumah Anda!
Melindungi rumah dan bisnis di Indonesia selama lebih dari 50 tahun